Perjalanan pertama menuju Semarang.

Pada post sebelumnya menceritakan mengenai semarang. Post kali ini, akan bercerita mengenai perjalanan pertama saya menuju ke sana. Pertama kalinya bagi saya menempuh perjalanan jauh seorang diri dengan kereta api menuju kota sama sekali belum pernah dikunjungi.

Antara senang sekaligus takut. Ketakutan terbesar bukan tidak sampai, melainkan bablas atau keterusan sampai surabaya *norak banget ya* 😥. Pada waktu itu saya menaiki kereta argo bromo anggrek jurusan gambir – pasar turi  melalui jalur utara melewati semarang. Karena takut nyasar itulah sengaja berangkat pagi dari Jakarta dengan harapan tiba di tempat tujuan belum gelap.

Setelah mendapatkan izin cuti kalo tidak salah ingat 2 hari dan tiket kereta api telah dipesan. Maka berangkatlah, sabtu pagi diantar ibunda. Mengapa minta diantar, biar tidak bosan selama dalam perjalanan menuju stasiun dan bisa menemani hingga kereta yang dinaiki datang.

Waktu itu kebijakan pengamanan stasiun gambir masih belum begitu ketat sehingga pengantar dapat mencapai lantai 3 jalur pemberangkatan kereta. Kami sengaja lebih awal beberapa jam sebelum kereta berangkat. Terlalu awal malah, tiba di stasiun gambir jam 8 kurang. Masih bisa ngejar kereta paling pagi dari gambir ke semarang, argo muria.

Tapi tak mengapa, datang lebih awal lebih baik daripada terlambat dan ketinggalan kereta, sayang kalo tiket hangus. Tiket diperoleh cukup mahal karena berangkat hari sabtu (weekend) harganya hampir Rp 400.000.

Karena datang terlalu awal dan menunggu di lantai atas jalur pemberangkatan jadi sempat melihat beberapa langsiran dan pemberangkatan kereta Argo Muria menuju semarang, Argo parahiangan menuju gambir, argo jati menuju cirebon, tatsaka serta sancaka hingga tepat pukul 09:30 announcer mengumumkan bahwa kereta Argo Bromo Anggrek jurusan Gambir – Pasar Turi persiapan langsir.

Rangkaian gerbong kereta argo bromo anggrek cukup menarik karena berbeda dengan yang lain. Rangkaian dengan warna dasar putih dihiasi dengan livery garis hijau disertai gambar daun serta tulisan go green.

Setelah kereta berhenti sempurna, kemudian berpamitan dengan ibunda untuk segera menaiki gerbong, mencari bangku yang tercetak ditiket. Karena berangkat pada hari sabtu, okupansi cukup bagus. Setiap gerbong relatif penuh terisi penumpang.

Saya cukup beruntung karena bangku sebelah kanan yang saya duduki masih kosong jadi bisa menguasai 2 bangku sendirian meskipun hanya kosong hingga stasiun cirebon saja 😂.

Takjub ketika berada di dalam gerbong eksekutif. Fasilitas yang diberikan cukup oke bagi saya. Pendingin udara cukup sejuk, televisi lcd ukuran 21 di depan gerbong, bangku yang posisinya bisa diubah, ada sandaran kaki, disediakan sebuah bantal kecil, disetiap gerbong dilengkapi dua buah toilet satu wc posisi duduk dan jongkok yang relatif ga bau pesing ada otc khusus menangani masalah kebersihan kereta dan keamanan yang terjamin karena ada polsuska🙂.

Tidak lama kemudian kereta pun berangkat meninggalkan stasiun gambir. Dalam hati berujar, selamat tinggal jakarta. Tak lama terdengar suara manager on train dari pengeras suara 📣.  Perjalanan menuju stasiun semarang menempuh waktu yang cukup lama karena 3 tahun lalu sedang ada pembangunan jalur ganda lintas utara yang mengakibatkan kereta yang melewati jalur tersebut selalu mengalami keterlambatan lebih dari satu jam. Tetapi waktu tempuh masih lebih baik dibandingkan dengan bis antar kota antar provinsi. Karena kereta api tidak mengenal istilah macet seperti jalan raya, khusus untuk kereta eksekutif kelas argo. Pemberhentian di stasiun relatif sedikit dan tidak terkena silang antar kereta api.

Perjalanan menggunakan kereta api tidak usah khawatir kelaparan. Dalam rangkaian kereta disediakan satu gerbong khusus dinamakan restorasi (KMP/KM). Kalo malas beranjak dari tempat duduk. Kakak-kakak prami selalu menawarkan menu makanan dan minuman bisa dipesan dan diantar ke tempat duduk kita.
Oia, kakak-kakak prami argo bromo anggrek cantik-cantik lho 😍. Dengan mengenakan seragam khas seperti pramugari pesawat terbang. Beberapa jam sekali mereka keliling ke setiap gerbong menawarkan dengan ramah menu baik makanan, minuman, oleh-oleh serta sovenir macam majalah, baju, dvd, maianan sovenir kereta. Hanya saja ketika memesan menu jangan kaget melihat banderol harga relatif lebih mahal dibandingkan dengan harga menu di luaran 😐.

Saya benar-benar menikmati perjalanan menikmati perjalanan dengan kereta api. Hampir disepanjang perjalanan menjumpai hamparan sawah, ladang, barisan pegunungan yang tinggi.

Jika bosan melihat pemandangan, di kereta biasa diputar beberapa judul film bioskop, diselingi video musik, mini seri dokumenter mengenai sejarah kereta api di Indonesia dan iklan 😆

Ketika sedang asik melihat pemandangan di luar, terdengar suara musik yang syahdu. Pada saat itu saya khidmat sekali menyimak lantunan tembang gravity yang dinyanyikan oleh sara bareilles 😍.

Kereta api yang melalui Jalur utara mempunyai pemandangan yang mempesona, terutama jalur dekat pantai plabuhan. Ketika melintasi track itu, kereta melaju lebih lambat dan di sebelah kiri terbentang lautan luas dan deburan ombak silih berganti, beberapa pohon besar rindang.

Terkesima dengan pemandangan indah sambil mencoba mengabadikan momen seadanya dengan samsung galaxy wonder. Lintas pantai plabuhan hanya sebentar tapi meninggalkan kesan mendalam.

Namun Berbagai macam keindahan yang disuguhkan tetap tak mampu ngurangi ketegangan selama perjalanan. Tegang karena takut tertidur kemudian bablas sampai surabaya. Walaupun akhirnya tertidur lepas bekasi hingga karawang. Tidurpun tidak lelap karena, Seringkali terbangun karena kaget kemudian melonggok ke jendela. Ibunda mengirim beberapa pesan singkat sudah sampai di mana. Sepertinya beliau cukup khawatir anaknya nyasar begitupun dengan seseorang yang telah menunggu di sana, tak kalah khawatir. Namun saya lagi-lagi tidak dapat menjawab pesan singkat dengan pasti sudah sampai di mana, karena selain di stasiun beneran blank *ini sudah sampai mana?* 😣.

Polosnya meskipun menggunakan smartphone canggih dilengkapi gps namun bodohnya tidak mendaftarkan layanan data. Jadi gps tidak terpakai. Kalopin dipaksakan memakai tanpa daftar paket, nyedot pulsa dalam juga. Padahal gps akan sangat membantu dalam kondisi seperti ini.

Setiap pemberhentian di stasiun besar selalu saya mencari tau sembari mengabarkan posisi terakhir. Ketika kereta melaju pandangan tak lepas memandang ke luar, mengamati keadaan sekitar. Mencoba membaca plang toko di sepanjang jalan maupun mengamati plat nomor kendaraan.

Selepas pantai plabuhan saya melihat di perlintasan kereta api melihat plat no kendaraan baik motor dan mobil “H”. Disaat itu saya tau sudah memasuki wilayah Semarang 😆. Setelah itu segera mengabari melalui pesan singkat kemudian merapikan barang bawaan. Yang saya tidak tau, setelah melewati pantai plabuhan butuh waktu sekitar 2 jam lebih menuju stasiun tawang. Degup jantung begitu kencang, pastinya semakin Tegang broh.. Saya makin kencang mendoktrin diri sendiri jangan tertidur 😭

Akhirnya anouncer mengumumkan bahwa sebentar lagi akan memasuki stasiun poncol (SMC), saya segera membawa tas, kantong plastik berisi cemilan dan botol air minum ke bordes. Padahal ya tidak perlu sebegitunya juga. Memang jarak antara stasiun poncol dan tawang tidak terlalu jauh. Cuma ga pengin tidak bisa turun terus  terbawa kereta ikut ke surabaya. Reaksi yang berlebihan dan menggelikan jika teringat kembali 😣.

Dan akhirnya saya tiba di tujuan akhir perjalanan. Kereta Argo bromo anggrek masuk stasiun tawang kemudian perlahan berhenti. Para porter segera bergegas masuk di setiap rangkaian untuk membantu penumpang yang membawa barang bawaan banyak. Saya pun segera turun bersama para penumpang yang tujuan akhirnya sama.

Stasiun Tawang (SMT) dengan nuansa art deco khas peninggalan masa penjajahan belanda. Nuansa kusen jendela lebar, atap bangunan yang tinggi. Saya sebagai orang awam selalu menggangap arsitektur belanda klasik itu indah, sederhana, megah, fungsional. Sekilas mengingatkan akan stasiun kota.

Menginjakan kaki di stasiun tawang dengan perasaan campur aduk. Senang tiba dengan selamat sampai tujuan, takut nyasar sampai surabaya, dan lelah luar biasa karena terus berkonsentrasi sudah berada di mana. Jangan bayangkan bagaimana penampilan saya waktu itu.
Kusut dan kumel sekali lah. Saya segera bergegas menuju pintu keluar stasiun. Di sana ada beberapa supir taksi, tukang becak yang menawarkan untuk mengantarkan ke tempat tujuan.

Karena sudah mengetahui akan dijemput saya pun clingukan melihat ke semua penjuru. Hingga mata tertuju kepada sesosok wanita cantik anggun yang tersenyum manis ketika melihat saya. Seorang yang telah menunggu dengan cemas semenjak malam sebelum berangkat. Seseorang yang ingin saya temui semenjak lama.

Kami pun menyempatkan diri duduk dan berbincang sebentar di luar stasiun. Saya terdiam beberapa saat sembari melihat suasana di sekeliling. Seolah ingin menyakinkan diri sendiri. Bahwa ini nyata bukan mimpi. Bahwa saya berhasil menempuh perjalanan jauh seorang diri nemui someone special. Hingga dia berujar “mas, kamu lebih ganteng diskip”. Coba-coba diulang yang barusan 😒. Saya pun menoleh dan tertawa 😂 Tapi tak mengapalah, setidaknya selain ibunda ada yang bilang saya ganteng, teteup 😎.
Setelah perbincangan singkat, kami pun sepakat bergegas menuju parkiran motor untuk mengantarkan saya ke tempat peristirahatan *akhirnya bisa rebahan* 😆/

Terima kasih waktu itu telah bersedia menemui, menjemput serta menemani menjelajah selama berada di sana.

Sebuah perjalanan jauh pertama seorang diri. Pengalaman luar biasa berkesan. Perjalanan yang akhirnya membuat saya terpesona dan jatuh hati pada kota Semarang.

Semarang dalam kenangan..

^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s